Pahami depresi lebih dalam

Depresi adalah sebuah kondisi dimana seseorang memikirkan satu objek pikiran dengan konten yang sama. Dan konten yang sama tersebut selalu muncul, dan tenggelam, kemudian muncul lagi dengan konten yang sama. Konten yang sama dan terus-menerus muncul dalam pikiran, akan menjadi sulit bagi pikiran untuk melepaskas objek tersebut.

Proses pikiran yang alamiah adalah ketika sebuah objek dengan konten tertentu muncul, kemudian objek tersebut menghilang, diikuti dengan objek pikiran dengan konten yang lain, kemudian tenggelam lagi, kemudian objek pikiran dengan konten berbeda muncul dan tenggelam dan seterusnya. Apabila objek pikiran berubah-ubah dan aktif, itulah yang menjadi karakter pikiran secara natural atau alamiah.

Kesulitannya adalah apabila sebuah objek pikiran dibarengi dengan konten yang menyulut emosi atau perasaan yang mana emosi atau perasaan tersebut memiliki intensitas yang tinggi, misalnya menyebabkan kesakitan hati atapun kesenangan hati yang belebihan. Objek pikiran dengan konten yang berlebih ini, lebih membekas dalam pikiran dan akan lebih sering muncul secara terus-menerus, dan sulit untuk diproses atau diterima realitanya.

Objek pikiran yang memiliki intensitas emosional tinggi ini haruslah diekspresikan secara jujur dan terbuka, agar kemudian tubuh dan pikiran bisa memahami realita yang terjadi, sehingga pikiran bisa menurunkan intensitas emosi tersebut ada standar yang lebih dapat diterima oleh pikiran.

Untuk pertanyaan dan konsultasi lebih lanjut, silahkan email ke awakeningbali@gmail.com

Apa itu depresi?

Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia diberikan karunia pikiran yang begitu kompleks. Dengan kompleksitas cara kerja pikiran manusia seperti yang kita miliki, kita mempunyai kesempatan untuk berevolusi lebih cepat dari makhluk lain, misalnya binatang. Namun, dengan kompleksitas ini pula kita bisa terjebak dalam kondisi yang tidak kondusif. Kondisi yang membuat sulit bagi manusia untuk beradaptasi dengan perubahan, ketidakmampuan untuk menerima perubahan, dan sebagainya.

Secara alamiah, kerja pikiran manusia adalah sangat cepat berubah dan sangat aktif. Pikiran manusia pun sangat kuat, karena pikiran manusia ini bisa diarahkan secara intuitif maupun instingtif. Secara insting, artinya pikiran manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi pada hal-hal tertentu yang diperuntukan pada keselamatan hidup. Secara intuitif, pikiran manusia bisa diarahkan untuk dapat meraih sebuah tujuan tertentu dalam hidup, untuk berevolusi dan memahami perubahan-perubahan.

Berawal dari karakter pikiran yang aktif tersebut, maka pikiran terdiri dari objek-objek konten pikiran yang muncul dari berbagai topik. Objek konten pikiran ini, berubah dengan sangat cepat. Pikiran manusia hanya bisa memperhatikan satu objek pada satu waktu. Namun, karena perubahan dari objek satu ke objek lainnya terjadi dengan sangat cepat, terkadang seseorang berasumsi bahwa ia dapat memperhatikan dua objek pikiran sekaligus dalam satu waktu.

Jadi, objek pikiran pertama akan diikuti dengan objek pikiran kedua. Yang bisa jadi konten pikiran tersebut terkait satu dengan lainnya, ataupun tidak terkait satu dengan lainnya. Yang diutamakan dalam pelatihan meditasi adalah agar seorang praktisi memiliki kemampuan untuk bisa memperhatikan objek, tanpa berinteraksi dengan objek pikiran tersebut.

Kebanyakan orang secara tidak sadar berinteraksi dengan objek pikiran tersebut. Misalnya, objek pikiran pertama muncul: “oh, aku tidak menyangka ia berpeluk manja dengan perempuan itu di belakangku.” ~ objek pikiran dengan konten seperti ini akan menimbulkan perasaan emosional: kecemburuan, kemarahan, kebencian, sakit hati, pertikaian, pengkhianatan, dan sebagainya. Apabila seseorang tidak menyadari bahwa ini adalah objek pikiran, maka seseorang yang tersakiti itu akan memikirkan hal yang sama secara berlarut-larut. Dengan demikian, rasa sakit hati dan seluruh emosi yang mengikuti akan semakin menjadi-jadi.

Hal ini lah yang menjadi bibit penyakit dan depresi. Itulah sebabnya letihan meditasi begitu penting agar kita terlindungi dari cara pandang pikiran yang salah (wrong view), dan agar kita dapar meraih ketenangan batin.

Untuk pertanyaan dan konsultasi lebih lanjut, silahkan email ke awakeningbali@gmail.com

Cara Meraih Ketenangan

Agar dapat mendapatkan ketenangan, maka pikiran dan batin harus dikondisikan untuk bisa menjadi tenang. Caranya dimulai dengan mengasah ketajaman pikiran, agar pikiran dapat diarahkan untuk mengamati objek yang muncul dalam pikiran itu sendiri, namun tidak diteruskan dengan interaksi pada objek pikiran tersebut. Itulah yang menjadi bagian dari latihan dasat meditasi dan yoga.

Kedengarannya agak rumit ya? Namun sebenarnya cukup sederhana. Hanya saja memang dibutuhkan latihan dan kesabaran. Karena dalam prosesnya, sebelum kita berada dalam ketenangan tersebut, objek-objek pikiran akan terus menerus muncul dan tenggelam. Sampai akhirnya intensitas kemunculannya menjadi berkuran, dan menjadi lebih tenang.

Contoh mengamati objek pikiran tanpa berinteraksi dengan objek tersebut misalnya seperti ini: Ketika kita duduk diam, pikiran mulai aktif kesana dan kemari, kemudian muncul sebuah pikiran “ahh, sebaiknya aku nanti beli makan di warteg depan rumah saja biar lebih gampang, tidak perlu beli makan di tempat yang jauh.” ~ ini adalah salah satu objek konten pikiran yang muncul. Apabila kita menyadari objek pikiran ini sebagai objek, maka kita kita akan meneruskan konten tersebut. Namun ketika fokus belum terasah, maka dengan tidak sadar kita akan berinteraksi dengan objek pikiran tersebut.

Misalnya, objek pikiran: “ahh, sebaiknya aku nanti beli makan di warteg depan rumah saja biar lebih gampang, tidak perlu beli makan di tempat yang jauh.” ~ kemudian ditambahkan konfirmasi (sebagai interaksi dengan objek pikiran) “ya, lagipula masakannya pun enak dan tidak terlalu pedas.” ~ “tapi aku pengen makan ayam, dan di warteg itu jarang masak ayam.” ~ “ahh, apa beli KFC aja ya?” ~ “bla bla bla”. Dan tanpa disadari, kita berkutat dengan proses pikiran tersebut selama 20 menit.

Begitulah yang biasanya terjadi pada para pemula meditas. Dan hal tersebut sangatlah lumrah dan biasa. Karena sudah alamiahnya pikiran kita ini sangat aktif. Namun yang harus kita latih adalah agar kita tidak berkutat pada objek pikiran secara berlarut-larut. Bahaya-nya ketika seseorang tidak dapat lepas dari datu objek konten pikiran, dan selalu berada pada konten yang sama dalam waktu yang panjang, kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya stress dan depresi.

Untuk pertanyaan dan konsultasi lebih lanjut, silahkan email ke awakeningbali@gmail.com

Apa itu meditasi?

Meditasi adalah salah satu teknik pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas daya fokus dan konsentrasi pikiran. Tujuan utama pelatihan meditasi adalah untuk meningkatkan fokus dan konsentrasi pikiran sehingga pikiran dapat diarahkan untuk tujuan tertentu, misalnya observasi atau proses mengamati.

Kebanyakan orang tidak melaksanakan meditasi, karena dasar dari pelatihan meditasi itu adalah cara pendekatan kita masing-masing untuk dapat memahai karakter dari pikiran itu sendiri. Apabila kita tidak dapat mengamati dan mengetahui karakter pikiran kita, maka akan sulit bagi kita untuk memahami meditasi.

Kunci dan tujuan meditasi adalah untuk mendapatkan fokus dan konsentrasi. Sedangkan fokus dan konsentrasi tidak dapat diraih apabila pikiran kita tidak relax atau tidak tenang. Fokus dan relaksasi bagaimana satu mata koin, yang mana satu sisi tidak bisa dipisahkan dari sisi lainnya. Apabila kita ingin mendapatkan fokus, maka kita harus tenang. Dan apabila kita tenang, maka secara otomatis fokus akan dapat diraih.

– meditasi membangkitkan ketenangan batin –

Bayangkan ketika pikiran tidak tenang, maka pikiran akan bergerak dengan cepat dari satu konten ke konten lainnya. Pada detik ini kita memikirkan jemuran yang belum diangkat dan hampir hujan, sedangkan detik berikutnya kita memikirkan apa yang harus dimasak untuk makan malam. Apabila pikiran tidak dilatih untuk meraih fokus, maka pikiran akan selalu kesana kemari. Dan akan sulit bagi kita untuk mendapatkan ketenangan baik untuk pikiran maupun batin.

Jadi untuk mengasah dan melatih ketajaman pikiran, fokus dan konsentrasi, di waktu yang sama kita pun harus melatih ketenangan, kepasrahan dan relaksasi.

Untuk pertanyaan dan konsultasi lebih lanjut, silahkan email ke awakeningbali@gmail.com

Jenis Yoga

Pelatihan yoga sendiri mencakupi kategori yang luas dalam kehidupan manusia. Peradaban yoga sudah ada sejak zaman nenek moyang kita dan telah dipelajari secara mendalam dan membuktikan bahwa yoga memberikan dampak positif pada kehidupan manusia. Beberapa jenis yoga yang masih dipelajari sampai hari ini antara lain:

Raja yoga, yaitu pengetahuan dasar yang berasal dari pembelajaran “8 cabang” atau “8-limbs” atau “8-fold path” yoga Patanjali. Hal ini menyangkut pembelajaran yang wajib dijalankan oleh seluruh praktisi yoga yaitu: yama dan niyama yaitu pengetahuan etika kedalam dan keluar diri, asana yaitu pengetahuan olah gerak tubuh dan sikap, pranayama yaitu pengetahuan olah pernapasan, kemudian selanjutnya pratyahara, dharana, dhyana dan samadhi adalah pengetahuan olah pikiran dan batin. Pengetahuan Raja yoga menjadi dasar pelatihan yang kemudian menjadi dasar pengembangan yoga lainnya.

Jnana yoga, yaitu pengetahuan yoga yang bertujuan untuk kearifan, kebijaksanaan, kewibawaan, ketajaman dan kecerdasan pikiran. Proses pelatihan Jnana yoga bertujuan untuk meningkatkan kualitas fokus dan konsentrasi pikiran, sehingga seseorang dapat mengarahkan pikiran pada satu objek tanpa terganggu dengan konten pikiran lain.

Hatha yoga, yaitu pengetahuan sistem pelatihan yang dibuat untuk memurnikan tubuh fisik, agar manusia bisa hidup dalam umur yang panjang. Di dunia modern, seperti sekarang, banyak praktisi yang mengembangkan Hatha yoga menjadi jenis atau kategori yoga lainnya, misalnya aerial yoga, acro yoga, yin yoga, dance yoga, vinyasa yoga, power yoga, bikram yoga, yoga berpasangan, yoga untuk kehamilan, yoga untuk anak, dsb. Tujuan Hatha yoga pada dasarnya adalah untuk memperkuat tubuh fisik, otot dan tulang, sehingga seluruh sistem dan sirkulasi tubuh dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

– yoga untuk anak –

Bhakti yoga, yaitu pengetahuan yoga yang bertujuan untuk menanamkan pembaktian, kecintaan, ketaatan sebagai jalan untuk pemurnian pikiran dari kekotoran batin.

Kundalini yoga, yaitu pembelajaran yoga yang bertujuan untuk memberikan kebebasan ekspresi batin dengan tujuan agar pikiran dapat terbebas dari belenggu atau keterbatasan.

Integral yoga, adalah kategori pelatihan yoga yang mengadaptasi budaya india kuno. Biasanya yoga model ini memiliki paten yang tegas dan wajib diikuti dengan seksama oleh para praktisinya.

Mantra yoga, yaitu yoga yang mempelajari transformasi suara dan bunyi, diperkenalkan oleh Papa Ramdas pada tahun 70an. Mantra yoga kemudian banyak dikembangkan dengan integrasi instrumen atau alat musik dan nyanyian mantra. Mantra yoga kemudian juga dikenal sebagai sound healing, sound bath atau sound meditation.

Keseluruhan kategori yoga diatas pada dasarnya sudah dipelajari sejak ribuan tahun yang lalu dan dikenal sebagai pembelajaran Tantra yoga atau Tantric practice. Banyak jalan atau pendekatan dari pembelajaran tantra ini, terutama di dunia bagian timur. Apakah yoga ada hubungannya dengan hal-hal berbau klenik?

Untuk pertanyaan lebih lanjut silahkan hubungi awakeningbali@gmail.com

The secret of Coconut Oil

What is coconut oil?

Coconut oil is an extracted oil from the meat of mature coconuts, harvested from coconut palm. Coconut oil contains 100% fat, but the structure of fat in coconut oil is different from the saturated fat found in many animals.

Coconut oil is best to be used in room temperature, without heating. When it’s being heating the chemical of good fat can be changed into different character that has un-categorized effect to the wellness of the body.

– homemade pure coconut oil –

How to choose good quality of coconut oil?

  1. Smell it. Natural produce (not manufactured) coconut oil give natural coconut fragrance. If you have never smells a coconut fragrance before, you must be aware of the metallic smell of the product. Metallic smells normally signify un-natural production or chemical use.
  2. See it. Natural coconut oil is transparent, almost like water with golden shades. Sometimes contains dusty material at the bottom of the packaging.
  3. Feel it. See if you can use your instinct of choosing the product. Be aware of any feeling of lust, fear or greediness which can cloud your instinct.

DIY coconut oil for you daily wellness

Oil Pulling: “Oil pulling” is a term that is used for using coconut oil to clean your mouth and throat.

How to do oil pulling?

– Take 1 table spoon of coconut oil

– Put in your mouth

– Gargle with coconut oil in the mouth

– Gargle with coconut oil in your throat

– Release coconut oil

– Gargle with salted warm water

Benefit of oil pulling is to clean all types of bacteria in the mouth. This activity can help to reduce bad odor in the mouth, sprue, also help to reduce toothache.

Other way of using coconut oil for wellness:

Mix with baking soda for body scrub or tooth paste

Coconut oil for hair and skin treatment

Human obligation is to be Happy

Trapped inside the mind means at such moment, we think of certain situation or certain thing must be done in certain way, not another way else. For example, we ask ourselves, “What do I want to eat?” and then we create our condition where, “I cannot eat, unless… this and that.” This is when we trapped our mind in a certain condition.

If we keep doing this to our mind, being inflexible, we are learning to become aversion to our own reality. We put ourselves in a condition to be happy. We put ourselves in the condition to be accepted. We put ourselves in the condition where we create so much rejection about our live. However, we will not be able to see this, if we keep our mind busy with all the so called “obligation”.

We think we have the obligation to take care of our family. We think we have the obligation to make money. We think we have the obligation to go to work. But, we forget our main and basic obligation to be happy, under all of the condition that we have created.

We are so concern about our survival, and thus we do not see the truth that all of this fear is not real. However, we cannot deny that each of us have different path to achieve enlightenment. And that is okay. In faith, each way that we take lead us to another path. The only limit in this struggle is when we stop and give up. Trust that everything is going to be fine and enjoyable. Life indeed is enjoyable and magnificent.

For deeper explanation, please ask awakeningbali@gmail.com

Apa itu yoga?

Yoga adalah salah satu konsep pelatihan yang bertujuan untuk melapangkan kinerja dan vitalitas fisik dan mental agar seseorang hidup dalam umur yang panjang, memiliki pemikiran yang luas dan pengetahuan yang dapat diterima dengan akal sehat, bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Kebanyakan institusi mengkategorikan “yoga” sebagai salah satu pilihan praktek olahraga, namun pelatihan yoga yang sebenarnya bukan hanya menyangkut olahraga, namun juga olah pikiran, jiwa dan batin.

Apa yang membedakan pelatihan yoga dan pelatihan olahraga lainnya? Dalam praktek pelatihan yoga, setiap peserta diwajibkan untuk mengikuti aturan-aturan pengaturan napas, pengarahan pikiran dan pengarahan gerak tubuh. Jadi setiap gerakan tubuh, harus diselaraskan dengan pengaturan napas dan pikiran. Dengan begitu setiap gerakan yang dilakukan dengan hikmat akan memberikan manfaat besar kepada tubuh dan pikiran, jiwa dan raga.

Gerakan-gerakan sederhana, seperti contohnya duduk bersila saja bisa memberikan manfaat yang sangat besar pada kualitas dan vitalitas tubuh apabila diseimbangi dengan pengaturan napas dan pelan dan halus, serta pengarahan pikiran yang difokuskan pada satu objek. Jadi ketika kita belatih yoga, tidak seyogyanya kita memikirkan pekerjaan, atau makanan atau hal-hal lainnya yang tidak berhubungan dengan gerakan dan arahan napas yang diberikan saat di kelas yoga.

– gerakan yoga harus selaras dengan napas –

Kebanyakan studio yoga yang dibuka di Indonesia memberikan pengalaman latihan yoga dalam bentu yoga asana yaitu latihan yoga secara fisik yang bertujuan untuk memperkuat tubuh fisik dan memperbaiki sirkulasi tubuh secara keseluruhan. Latihan yoga secara keseluruhan haruslah dibarengi dengan latihan meditasi, dan lagipula, banyak bentuk latihan yoga yang bukan hanya yoga asana. Pada dasarnya seluruh kegiatan hidup yang kita jalani sebagai manusia adalah bagian dari latihan yoga itu sendiri.

Apabila seseorang melakukan pelatihan yoga namun tidak diseimbangi dengan keselarasan napas dan pikiran, maka gerakan tubuh akan terasa berat dan sulit. Namun gerakan yang sulit pun apabila diseimbangi dengan napas dan pikiran yang tenang akan memberikan hasil dan rasa yang memuaskan.

Kebanyakan orang berpikir bahwa yoga efektif untuk penurunan berat badan. Tentunya setiap kegiatan olahraga akan membawa dampak positif pada tubuh dan menyeimbangkan berat badan, namun manfaat yoga sangat besar dan jauh lebih luas dari sekedar penurunan berat badan.

Ketika yoga dilaksanakan dengan kesungguhan dan niat yang tulus, maka setiap pelatihan yoga akan membawa manfaat yang berakar pada ketenangan pikiran. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa pikiran mereka sangatlah aktif. Konten-konten pikiran berubah dengan sangat cepat, hal ini menjadi salah satu penyebab kebanyakan orang merasa seluruh perubahan harus terlaksana dengan singkat, cepat bosan atau tidak sabar.

Kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa perubahan adalah hal alami yang cepat atau lambat akan terjadi. Dimana setiap tunas kebaikan akan menumbuhkan buah yang manis, dan begitu pula sebaliknya. Begitu juga dengan pelatihan yoga yang benar, akan membawa dampak positif kepada tubuh, pikiran dan kehidupan seseorang secara menyeluruh.

Jadwal yoga sanur: www.yogaumahshakti.com

Untuk pertanyaan lebih lanjut silahkan email ke awakeningbali@gmail.com

Binary thinking

Our thinking, built on the principle of “yes – no”, can be called “dichotomous.” Literally – “division by two.” This thinking has generated the most terrible distortion in the assessment and knowledge of the world. The way of thinking gives rise to existing forms of relations, culture, science, the way of society. To go beyond these forms, means to go beyond the limit of the way of thinking, for which is necessary to change the morality and perception of the world. Moral principles construct thinking algorithms, but the morality that is constantly imposed on us is either Byzantium, or “civilized society”, or by someone else (and in fact always coming from the same source), nothing more than chaos, revolution, tyranny can not bring. Dichotomous thinking dooms all affairs and undertakings to failure since it cannot correctly reflect the world around us. The dichotomy established in the traditions and culture of many nations and set a hard limit for the development of science and worldview of all humanity. Thanks to this type of thinking, Humanity is easy to manage, it is easy to deceive and impose wars, revolutions, tyranny, crises on it.

The origins of tyranny is not in a separate person: in Hitler, Napoleon, Stalin, not in a separate doctrine: communism, fascism, fundamentalism, and even not in a separate nation. The origins of tyranny is due to the way of thinking of people of this civilization, which is formed by existing moral principles. Auschwitz and the Gulag, Hiroshima and Babiy Yar are all the result of one type of thinking, one type of morality. It doesn’t matter what was proclaimed and written on the banners. It is important, what kind of morality was at the basis of all these acts, and what kind of attitude was actually towards a Human.

The result of dichotomous perception is expressed, as example, in fanaticism. Fanaticism is a type of hypnosis, when a person’s mental analysis, his own will and consciousness are turned off for certain thoughts and ideas, but aggression is turned on. In the Middle Ages, this condition was called obsession, in our time it is also called zombification.

From the very nature of the dichotomy follows the depravity of judgment. A person, himself without understanding it, uses a primitive scheme of thinking: dichotomy (bad or good) -> evaluation (judgment) -> denial or attachment. But in Nature there are many interrelationships beyond such primitive thinking!

The question arises: how do we develop ourselves in such a way as to go beyond our stupidity? In the very word of Vipassana, the answer lies: meditation of the attainment of wisdom. But before, I propose to add into analytical thinking such a concept: “I admit that I don’t know everything.” Armed with this concept, a person is able to push back self-conceit or self-importance and childishly watch with curiosity. Keep quiet and learn.

Self-conceit (self-importance) manifests itself in feeling “I am above it” or “it’s too … (uncomfortable, unacceptable, disgusting, low, etc.) for me”, or “who is he / she to tell me that? ! “. As a rule, after such a thought a reaction occurs: aggression or avoidance. The bad news: often in people this is manifested unconsciously. That is, the person acts automatically. Good news: we are already able to see it in ourselves. And since Human is a beautiful and perfect being by nature, we are ready to see and overcome this tendency in ourselves.

There is one more obstacle in a person that impedes self-development. It is the way we learn. Look, since childhood we are all told how the world is and how we should perceive it. Starting with parents, then kindergarten, school, high school: society basically: everything sets us up to receive knowledge about the world from someone from outside. Moreover, the practice of acquired knowledge is almost never accomplished. True assimilation of information does not occur. Therefore, sometimes you can hear the question: “How do you know this?” Or even better “Who told you this?” The very statement of such a question proves what been told above about the world perception of the majority.

Meanwhile, there are three stages in the acquisition of true knowledge: listen to the teacher (read a book) or get knowledge. Think about or realize knowledge. Apply or get direct experience from knowledge. I can talk as much as I want about salt, its color and chemical composition and taste. But until you try the salt, knowledge will remain only information. I can talk as much as I like about the dichotomy of perception, but as long as you do not sit down and do not realize this in practice of meditation, this text will remain only information for you.

Bhante Henepola Gunaratana. Meditation on Perception: Ten Healing Practices to Cultivate Mindfulness:
  “The basic process of perception meditation is fairly simple. We use pacification meditation (Samatha) to calm down and center ourselves, and insight meditation (Vipassana) to more clearly understand how we usually perceive our own body and mind, as well as the surrounding world. To our horror, we find that although our way of sensing and understanding our own experiences seems solid and reliable, in fact, it contains several significant distortions or errors. It does not lead to clarity and joy, but to confusion and suffering. This understanding pushes us to continue meditating in order to develop a refined perception in the manner indicated by the Buddha. As a result of these attempts, we are moving forward along a path that allows us to free ourselves once and for all from diseases, delusions and other forms of physical and mental suffering.

The technique of meditation cannot be fully described in words, because true understanding comes only during practice. However, it is so simple that anyone can start. The basis of technology is the silent observation of all the phenomena that the mind can register: physical and mental. At the same time, the meditator says to himself exactly what he is observing. It is necessary for the education of the mind and focus of consciousness.

Physical phenomena are observed in the five sensory “gates” of our body: skin (feel), ears (hear), eyes (see), nose (smell), mouth (taste).
Mental phenomena are observed as “thinking” in general, that the teachings of Sayadaw Mahasi divided into “imagining”, “remembering”, “planing”.

In fact, in the course of our lives, we all meditate. Consciously or not. Every time we concentrate on the work we do, this is Samatha meditation. Every time we sit on the shore of the lake, we meditate: we observe nature: the wind, sounds, smells, our feelings and emotions. This is Vipassana meditation. However, if we are distracted by an endless stream of thoughts, we begin to worry about them or make decisions in imaginary situations without realizing this fact: this is no longer a meditation.

There are many different meditations aimed at developing various aspects of our Mindfulness. In particular, Metta Chanting is a type of Buddhist meditation in which the yogi focuses on the pronunciation of a Sanskrit text. Over time, when the text is learned and the pronouncing of words does not cause stresses of memory, the yogi focuses on his sense of Faith. Namely, understanding the meaning of the spoken one believes that the spoken is done like a spell. He turns his faith to the Macrocosm (Buddha, Jesus, the Creator, Allah, the Universe – call it what you will). However, I would recommend to think about those names not as something personified, but as aspects of the Universe that embodied in the Human body for the fulfillment of a certain mission or remain disembodied beyond the limits of the Human perception.

I.S. Kovpak

The Biggest challenge when practicing Yoga

Nowadays, the term “yoga” has gotten so many meaning. I am afraid later on it becomes the same as the term “love”. As we use it too much, we lose meaning of it. People in modern days, create stretches definition of what “yoga” is, and yet by the basic philosophy and understanding of the yogic practice, the goal of yoga practice is oneself to attain freedom.

Within the widespread of testimonial “yoga”, yoga practice has become very different nowadays. Practitioners choose their focus in many different direction, based on their “needs”. The problem could appear, when practitioner is not clearly see the truth of themselves. Who they are and what they are doing in their life. Many of us, of course try as must as we can to be a better version of us. Yet, still we haven’t found perfection.

When the heart is full of sadness and anger, it is easy for ego-self to take over in part of survival. And yes, the biggest challenge in this path of yoga practice is to work within the growth of ego-self. The ego would not change itself, until it comes to one peak of realization.

For example, during the lifetime of the ego. If the ego has not gotten satisfaction regarding to appreciation, then it is easy for this ego-self to seek only for self-appreciation. He will be thirsty of praise from others. But what he does not realize is that, behind this praise there is pain that is sneaking behind his back. Praise and pain is just the two side of one coin.

Another challenges in practicing yoga, caused by the not knowing and not understanding of the nature of our mind. We do not realize that it is the nature of the mind that is always changing. Never stop. Yet, because the changes happen very fast. We got confused.  We do not know that when we let the mind be, the mind will be settle down and then we can see clearly of our reality.

One other biggest challenge in practicing yoga also caused by the judgment of the ego. The ego wants to look nice, to look perfect. And then one day we just cannot be perfect, and the ego is hurt. And this situation confused us. We think that our energy level is very low. But, the truth is we are the one who must take responsibility of what we do. Problem arise caused we do not pay attention to what we are doing.

“In our life, there only exist the action and consequences.”

I. S. Kovpak