Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia diberikan karunia pikiran yang begitu kompleks. Dengan kompleksitas cara kerja pikiran manusia seperti yang kita miliki, kita mempunyai kesempatan untuk berevolusi lebih cepat dari makhluk lain, misalnya binatang. Namun, dengan kompleksitas ini pula kita bisa terjebak dalam kondisi yang tidak kondusif. Kondisi yang membuat sulit bagi manusia untuk beradaptasi dengan perubahan, ketidakmampuan untuk menerima perubahan, dan sebagainya.

Secara alamiah, kerja pikiran manusia adalah sangat cepat berubah dan sangat aktif. Pikiran manusia pun sangat kuat, karena pikiran manusia ini bisa diarahkan secara intuitif maupun instingtif. Secara insting, artinya pikiran manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi pada hal-hal tertentu yang diperuntukan pada keselamatan hidup. Secara intuitif, pikiran manusia bisa diarahkan untuk dapat meraih sebuah tujuan tertentu dalam hidup, untuk berevolusi dan memahami perubahan-perubahan.

Berawal dari karakter pikiran yang aktif tersebut, maka pikiran terdiri dari objek-objek konten pikiran yang muncul dari berbagai topik. Objek konten pikiran ini, berubah dengan sangat cepat. Pikiran manusia hanya bisa memperhatikan satu objek pada satu waktu. Namun, karena perubahan dari objek satu ke objek lainnya terjadi dengan sangat cepat, terkadang seseorang berasumsi bahwa ia dapat memperhatikan dua objek pikiran sekaligus dalam satu waktu.

Jadi, objek pikiran pertama akan diikuti dengan objek pikiran kedua. Yang bisa jadi konten pikiran tersebut terkait satu dengan lainnya, ataupun tidak terkait satu dengan lainnya. Yang diutamakan dalam pelatihan meditasi adalah agar seorang praktisi memiliki kemampuan untuk bisa memperhatikan objek, tanpa berinteraksi dengan objek pikiran tersebut.

Kebanyakan orang secara tidak sadar berinteraksi dengan objek pikiran tersebut. Misalnya, objek pikiran pertama muncul: “oh, aku tidak menyangka ia berpeluk manja dengan perempuan itu di belakangku.” ~ objek pikiran dengan konten seperti ini akan menimbulkan perasaan emosional: kecemburuan, kemarahan, kebencian, sakit hati, pertikaian, pengkhianatan, dan sebagainya. Apabila seseorang tidak menyadari bahwa ini adalah objek pikiran, maka seseorang yang tersakiti itu akan memikirkan hal yang sama secara berlarut-larut. Dengan demikian, rasa sakit hati dan seluruh emosi yang mengikuti akan semakin menjadi-jadi.

Hal ini lah yang menjadi bibit penyakit dan depresi. Itulah sebabnya letihan meditasi begitu penting agar kita terlindungi dari cara pandang pikiran yang salah (wrong view), dan agar kita dapar meraih ketenangan batin.

Untuk pertanyaan dan konsultasi lebih lanjut, silahkan email ke awakeningbali@gmail.com

Published by viawijaya

What is the meaning of life if each of the experience is just shallow experience? ~ Only if we can see the truth in the nature of our human life, thus we will understand the meaning of life ~ This is the purpose of our practice. This blog is dedicated for readers who what to improve themselves in their personal journey to find freedom and happiness.

%d bloggers like this: